Mendorong Transisi Energi Melalui Riset

Jakarta, 24 Juni 2024 –  Transisi energi menuju penggunaan sumber daya energi yang lebih ramah lingkungan menjadi tantangan besar yang dihadapi oleh banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Dalam upaya ini, riset memainkan peran penting sebagai pondasi untuk memahami, merencanakan, dan mengimplementasikan perubahan yang diperlukan. Hal ini diungkapkan Faris Adnan Padhilah, Koordinator Riset Bagian Manajemen untuk Permintaan Energi, Institute for Essential Services Reform (IESR) pada acara bertajuk “Generasi Muda untuk Transisi Energi: Peluang Karir dan Membangun Sektor Energi Terbarukan”, yang diselenggarakan oleh Society of Renewable Energy (SRE), Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE), Renewable Energy Skills Development (RSED).

 

Menurut Faris, melalui riset, Indonesia dapat menemukan solusi inovatif untuk tantangan energi, meningkatkan efisiensi, dan merancang kebijakan yang efektif untuk mendorong transisi energi berkeadilan. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat tetap menjadi kunci keberhasilan transisi energi.

“Kolaborasi antar berbagai pihak menjadi hal krusial. Misalnya saja kami di IESR selain bekerja dengan pemerintah pusat juga membentuk capacity building untuk pemerintah daerah dan masyarakat untuk mendorong transisi energi yang berkeadilan,” jelas Faris pada Sabtu (22/6/2024).

Salah satu contoh kerja nyata IESR, kata Faris, adalah program BOENDA (bantuan terintegrasi untuk dapur dan penerangan rumah tangga) di Provinsi Jambi. Awalnya program ini memasukkan kompor listrik sebagai salah satu bentuk bantuan, akan tetapi setelah ditelaah lebih lanjut, pengadaan kompor listrik ditunda terlebih dahulu dan difokuskan pada pemanfaatan PLTS atap. Berdasarkan kajian IESR, Provinsi Jambi memiliki potensi energi surya mencapai 281,5 GW.

“Riset dan advokasi yang dilakukan oleh IESR memainkan peran penting dalam memastikan Indonesia siap menjalankan transisi energi yang berkeadilan. Dengan riset mendalam dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, Indonesia dapat membuka peluang terciptanya green jobs yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan,” papar Faris. 

Mengutip studi IESR berjudul Deep Decarbonization menunjukkan akan ada sekitar 3,2 juta lapangan kerja baru yang berkaitan dengan green jobs. Ini mencakup berbagai sektor pekerjaan, termasuk energi terbarukan, efisiensi energi, pengelolaan limbah, pertanian berkelanjutan, dan bangunan hijau. Untuk itu, persiapan sumber daya manusia dan sumber daya finansial berperan penting, karena perkembangan teknologi bergerak begitu cepat membutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni dan dukungan pendanaan yang cukup.

Share on :

Leave a comment