Peluncuran Laporan dan Diskusi : Jalur Transisi Tenaga Listrik Batubara yang Selaras dengan 1,5°C di Indonesia: Strategi Tambahan di Luar Rencana Investasi dan Kebijakan Komprehensif (CIPP)

Latarbelakang

Indonesia telah meratifikasi Perjanjian Paris melalui Undang-Undang No. 16/2016. Dengan demikian, Indonesia terikat secara hukum untuk berkontribusi pada perjuangan global dalam mitigasi krisis iklim melalui upaya dan tindakan ambisius dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan membatasi kenaikan suhu global di bawah 1,5°C. Dalam salah satu hasil model iklim IPCC, yaitu 1.5°C compatible pathway, emisi Gas Rumah Kaca (GRK) global harus turun 45% pada tahun 2030 dibandingkan tahun 2010 dan mencapai net zero emission pada tahun 2050. Saat ini, Indonesia termasuk dalam 10 besar penghasil emisi gas rumah kaca (GRK) dan masih diproyeksikan akan terus meningkatkan emisinya, dengan sektor energi sebagai penyumbang GRK tertinggi pada tahun 2030.

Pada bulan November 2023, Pemerintah Indonesia menerbitkan versi pertama dari Rencana Investasi dan Kebijakan Komprehensif (CIPP), yang menguraikan peta jalan dan strategi pengurangan emisi sektor ketenagalistrikan di Indonesia. Meskipun rencana tersebut diharapkan dapat merinci bagaimana target pengurangan emisi dan target energi terbarukan yang dicanangkan oleh JETP akan diwujudkan melalui investasi dan kebijakan, kami menemukan bahwa elemen-elemen penting dalam keberhasilan transisi energi batu bara masih belum ada dalam versi yang ada saat ini.

Menurut laporan CIPP, investasi yang dibutuhkan untuk mencapai target 2030 yang diusulkan dalam rencana tersebut diperkirakan mencapai 97 milyar dolar AS. Sumber daya ini akan mencakup lebih dari 400 proyek prioritas, termasuk pengembangan jaringan listrik, penghentian pembangkit listrik tenaga batu bara, dan penyebaran energi terbarukan. Secara keseluruhan, 50% dari sumber daya tersebut dialokasikan untuk investasi dalam teknologi bersih yang dapat disalurkan (dispatchable clean technologies) seperti panas bumi dan tenaga air, sementara 26% diperuntukkan bagi pembangkit listrik terbarukan yang dapat berubah-ubah, dan 20% untuk infrastruktur transmisi. Pemensiunan dini pembangkit listrik tenaga batu bara hanya mewakili 2% dari keseluruhan rencana tersebut.

Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, penelitian ini mengembangkan sebuah jalur yang komprehensif dan berambisi tinggi untuk transisi energi batu bara di Indonesia dengan menggabungkan model penilaian terintegrasi global (GCAM), model pengiriman sistem tenaga listrik (PLEXOS), dan analisis dari bawah ke atas (bottom-up). Laporan ini memperluas versi CIPP yang sudah ada dalam beberapa dimensi, termasuk (1) menilai jalur yang selaras dengan target 1,5°C hingga tahun 2050, (2) mencakup pembangkit listrik on-grid dan pembangkit listrik off-grid, (3) menjajaki lebih banyak opsi transisi untuk pembangkit listrik batubara yang berbeda, dan (4) melakukan penilaian pembangkit per pembangkit untuk memahami lebih baik kesesuaian teknis dan ekonomi untuk masing-masing pembangkit, dengan menggunakan data yang terbaik yang tersedia.

Bergabunglah dengan Institute for Essential Services Reform (IESR) dan Center for Global Sustainability (CGS) di University of Maryland pada tanggal 4 Juni 2024 untuk mempelajari penelitian terbaru dalam mencapai transisi listrik tenaga batu bara yang sukses di Indonesia. Acara ini akan meluncurkan dua laporan baru, diikuti dengan sesi diskusi untuk menyebarluaskan temuan-temuan utama dan rekomendasi kepada para pemangku kepentingan di Indonesia.

  1. Untuk mengatasi kesenjangan investasi dan sumber daya yang ada, IESR dan CGS melakukan penilaian terhadap pembangkit listrik tenaga batu bara yang sudah ada dan yang sedang dalam proses pembangunan untuk menentukan prioritas penghentian dengan menggunakan kerangka kerja multikriteria di bawah jalur emisi yang sesuai dengan target emisi 1,5°C untuk Indonesia. Penelitian ini mengembangkan sebuah jalur yang komprehensif dan berambisi tinggi untuk transisi energi batu bara di Indonesia dengan menggabungkan model penilaian terpadu global (GCAM), model pengiriman sistem tenaga listrik (PLEXOS), dan analisis dari bawah ke atas (bottom-up). Laporan ini memperluas versi CIPP yang sudah ada dalam beberapa dimensi, termasuk (1) menilai jalur yang selaras dengan target 1,5°C hingga tahun 2050, (2) mencakup pembangkit listrik on-grid dan pembangkit listrik off-grid, (3) menjajaki lebih banyak opsi transisi untuk pembangkit listrik batubara yang berbeda, dan (4) melakukan penilaian pembangkit per pembangkit listrik untuk memahami lebih baik kesesuaian teknis dan ekonomi untuk masing-masing pembangkit listrik, dengan menggunakan data yang terbaik yang tersedia. Analisis lebih lanjut dilakukan untuk menentukan biaya dan manfaat dari skenario penghentian penggunaan batu bara lebih awal dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan, untuk pemangku kepentingan yang lebih luas.
  2. Laporan dan basis data baru Center for Global Sustainability, yang merupakan yang pertama dari jenisnya tentang kawasan industri, yang merupakan elemen penting dari inisiatif CIPP yang lebih luas yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi regional. Peluncuran ini menyoroti pentingnya ketersediaan data yang lebih baik, yang sangat penting untuk memahami permintaan dan membuat keputusan yang tepat mengenai pengembangan batu bara. Peluncuran ini juga menekankan perlunya menyeimbangkan tujuan lingkungan hidup dengan pertumbuhan ekonomi dan mengeksplorasi potensi pengembangan sumber energi terbarukan di dalam kawasan industri.

Tujuan

Tujuan dari seminar dan lokakarya ini adalah:

  1. Menyebarluaskan studi IESR-UMD mengenai strategi transisi dan jalur yang selaras dengan target 1,5°C untuk pembangkit listrik on grid dan captive power
  2. Mendiskusikan dan mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan oleh Indonesia dalam mengimplementasikan strategi transisi dari batu bara ke energi terbarukan.
  3. Mengidentifikasi dan mengusulkan kerangka kerja holistik bagi Indonesia di luar JETP CIPP untuk menilai strategi transisi dan jalur yang selaras dengan target 1,5°C