Strategi yang Lebih Komprehensif untuk Selaras dengan Target Iklim 1,5 Derajat

Jakarta, 4 Juni 2024 – Indonesia mencuri perhatian dunia saat mendapatkan pendanaan Just Energy Transition Partnership oleh negara-negara IPG pada akhir tahun 2022. Indonesia menghadapi tantangan dalam proses transisi energi dan mengejar target iklim salah satunya karena komposisi sumber energi Indonesia yang didominasi oleh energi fosil hingga 60-70 persen. Besarnya bauran energi fosil ini mencerminkan faktor lain seperti infrastruktur energi fosil yang besar. Dengan kondisi ini, merumuskan rencana menuju bebas emisi membutuhkan pendekatan komprehensif supaya biaya yang dibutuhkan untuk bertransisi dapat ditekan dan kehandalan sistem energi serta keterjangkauan energi dapat terjaga. 

Institute for Essential Services Reform (IESR) dan Center for Global Sustainability University of Maryland mengkaji situasi energi Indonesia, dan menguji skenario untuk membuat Indonesia sejalan dengan target iklim Paris yakni membatasi kenaikan suhu bumi pada level 1,5 derajat celsius.

Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif IESR dalam acara peluncuran laporan “Jalur Transisi Tenaga Listrik Batubara yang Selaras dengan Target 1,5 ℃ di Indonesia” hari Selasa, 4 Juni 2024 menjelaskan bahwa laporan ini mencakup PLTU on grid dan off grid dengan menerapkan beberapa strategi untuk mengurangi kapasitas operasi (operasi fleksibel), pensiun dini, cofiring biomassa, substitusi energi terbarukan, pembatalan konstruksi, sambungan jaringan listrik, dan teknologi penangkapan karbon (carbon capture storage).

“Studi ini memberikan strategi penurunan PLTU batubara secara bottom up berdasarkan karakteristik PLTU yang ada. Peta jalan ini bersikap komplementari bagi rencana JETP,” kata Fabby.

Nathan Hultman, Direktur Center for Global Sustainability, University of Maryland menjelaskan tantangan yang dihadapi Indonesia sebagai negara penghasil sekaligus pengguna batubara.

“Tantangan Indonesia sangatlah unik, terdapat peluang untuk mendorong aksi iklim yang akan membawa manfaat lain (co-benefit) seperti pertumbuhan lapangan kerja, peningkatan kualitas udara dan air, serta perlindungan sumber daya alam,” katanya.

Maria Borrero, Research Associate University of Maryland, penulis laporan “Jalur Transisi Tenaga Listrik Batubara yang Selaras dengan Target 1,5 ℃ di Indonesia” menyebutkan bahwa dokumen CIPP (Comprehensive Investment and Policy Plan) JETP Indonesia menunjukkan target yang lebih ambisius. Untuk membuatnya menjadi selaras dengan target iklim Paris 1,5 ℃ diperlukan rencana yang lebih komprehensif.

“Salah satu faktor mencolok dari sistem energi Indonesia adalah keberadaan PLTU captive yang jumlahnya cukup banyak dan saat ini kapasitasnya mencapai sekitar 15 GW. Dalam beberapa tahun ke depan akan ada tambahan 6 GW yang saat ini sedang konstruksi,” kata Maria.

Umur PLTU captive yang masih cukup muda (kebanyakan PLTU captive dibangun setelah tahun 2016), juga menjadi tantangan tersendiri sebab infrastruktur yang masih memiliki umur teknis panjang. Maria menambahkan untuk mengeksekusi target JETP terdapat sejumlah ketidakpastian, seperti ketidakpastian pemenuhan pendanaan hingga ketidakpastian metode untuk memastikan pengurangan emisi.

Akbar Bagaskara, analis sistem ketenagalistrikan IESR, menjelaskan kondisi sistem ketenagalistrikan Indonesia saat ini diharapkan biaya pokok pembangkitan Indonesia turun sebanyak 21% pada tahun 2030 dan 75% pada tahun 2050.

“Integrasi variabel energi terbarukan yang lebih besar membutuhkan penerapan teknologi penyimpanan, infrastruktur jaringan yang diperluas dan ditingkatkan, serta pengoperasian unit yang stabil dan fleksibel,” katanya.

Joseph Pangalila, Wakil Presiden Direktur Cirebon Power dalam sesi diskusi panel mengapresiasi adanya kajian ini. Hal ini dapat menjadi inisiatif yang baik dalam upaya percepatan transisi energi. 

“Harapan saya studi ini dapat ditindaklanjuti sampai implementasi. Saya pribadi ingin melihat teknologi apa yang dapat menjadi substitusi dari PLTU,” ucap Joseph.

Arionmaro Asi Simaremare, Manager Transisi Energi PT PLN, menambahkan pertumbuhan kapasitas captive di luar pulau Jawa membutuhkan inersia. 

“Salah satu cara menghilangkan terhadap kebutuhan captive ini berpindah menggunakan renewable energy atau bisa beralih menjadi dekarbonisasi dengan alih-alih dari hanya penyediaan dari coal saja namun bisa di mix dengan local renewable energy (gas, solar, wind) sehingga proses captivenya ini bisa semakin dikurangi penggunaan coalnya,” tuturnya.

Strategi Komprehensif Transisi PLTU untuk Masukan bagi CIPP JETP

press release
Deon Arinaldo, Manajer Program Transformasi Energi, IESR
Deon Arinaldo, Manajer Program Transformasi Energi, IESR

JAKARTA, INDONESIA | 4 Juni 2024 – Institute for Essential Services Reform (IESR), lembaga think tank di bidang transisi energi dan lingkungan di Indonesia, bersama Center for Global Sustainability (CGS) Universitas Maryland, meluncurkan dua kajian terbaru yang berfokus pada strategi untuk mencapai transisi energi bersih yang berhasil di Indonesia.  Laporan pertama menilai PLTU yang sudah beroperasi dan akan dibangun, untuk menentukan prioritas PLTU yang dapat diakhiri operasinya secara dini sejalan dengan  jalur pembatasan suhu bumi di bawah 1,5°C. Studi dilakukan dengan menggabungkan global integrated assessment model (GCAM), model sistem tenaga listrik (PLEXOS), dan metode analisis dari bawah ke atas (bottom-up).

Sementara laporan kedua memuat basis data kawasan industri di Indonesia sehingga dapat memperluas inisiatif Rencana Investasi dan Kebijakan Komprehensif (comprehensive investment and policy plan, CIPP) Just Energy Transition Partnership (JETP).

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa memaparkan, pembangkit listrik di Indonesia masih didominasi oleh batubara sekitar 60 sampai 70 persen. Adanya kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) untuk menjaga biaya listrik agar tetap terjangkau, menciptakan ketergantungan dan menyulitkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk beralih dari energi fosil ke energi terbarukan. Namun perubahan kebijakan ini diperlukan untuk memberikan dorongan agar PLN beralih dari batubara ke energi terbarukan. Kebijakan pemerintah perlu menjembatani implikasi negatif jangka pendek yang muncul ke pemangku kepentingan seperti PLN maupun konsumen listrik. 

“Studi ini menganalisis pembangkit listrik dalam jaringan (on grid) dan di luar jaringan (off grid) PLN yang menggunakan beberapa strategi untuk mengurangi kapasitas PLTU, operasi PLTU yang fleksibel, pemensiunan dini, pembakaran biomassa, substitusi energi terbarukan, pembatalan konstruksi, koneksi jaringan, dan penyimpanan karbon. Studi ini memberikan strategi bottom up coal phase down yaitu mengusulkan strategi prioritas untuk tiap unit PLTU berdasarkan karakteristik PLTU dan kesesuaian peran PLTU untuk kebutuhan listrik di sistem masing-masing. Rekomendasi strategi ini dapat melengkapi jalur JETP yang sudah ada saat ini,” ujar Fabby pada peluncuran laporan (4/6/2024). 

Direktur CGS, Nate Hulman, mengungkapkan bahwa acara peluncuran kajian ini menjadi platform untuk mendiskusikan cara Indonesia dapat mengimplementasikan transisi energi bersih dan berkontribusi terhadap target global 1,5 derajat Celcius. 

“Penelitian baru kami menawarkan strategi yang ambisius dan transformatif yang sangat penting untuk memberikan kerangka kerja holistik baru agar strategi transisi selaras dengan target 1,5°C dengan mempertimbangkan tujuan nasional,” ujar Nate Hulman. 

Laporan 1.5°C-Aligned Coal Power Transition Pathways in Indonesia menemukan antara tahun 2025 dan 2050, penggunaan co-firing biomassa dengan sumber berkelanjutan pada 80 unit PLTU batubara (13 GW) off-grid dapat berkontribusi terhadap hampir setengah dari pengurangan emisi kumulatif. Sementara itu, pengakhiran operasional secara dini PLTU batubara dapat diterapkan pada 105 unit PLTU (25 GW) dapat berkontribusi terhadap hampir setengah dari pengurangan emisi kumulatif pembangkit listrik on-grid.

“Pengurangan emisi di sistem kelistrikan PLN perlu lebih digenjot untuk mengimbangi pertumbuhan emisi batubara off-grid/captive dalam waktu dekat, sehingga mitigasi di sistem kelistrikan PLN berkontribusi terhadap 68 persen pengurangan emisi kumulatif hingga tahun 2050,” ujar Deon Arinaldo, Manajer Program Transformasi Energi IESR. 

Untuk mencapai percepatan transisi energi batubara ini, diperlukan transformasi yang signifikan pada sistem ketenagalistrikan Indonesia. Mengintegrasikan sumber energi terbarukan yang semakin meningkat akan membutuhkan teknologi penyimpanan baru, perluasan infrastruktur jaringan listrik, dan operasi yang stabil dan fleksibel. Analisis tersebut mengungkapkan bahwa biaya pembangkitan listrik (biaya operasi pembangkit dan bahan bakar) turun hingga 21 persen pada tahun 2030 dan 75 persen pada tahun 2050, serta mengurangi emisi dari sektor ketenagalistrikan hingga 50 persen pada tahun 2040. Di sisi lain, terdapat kebutuhan investasi tambahan untuk implementasi dari strategi transisi.

“Investasi yang signifikan dalam teknologi penyimpanan baru, perluasan jaringan listrik, serta operasi yang stabil dan fleksibel sangat penting untuk membangun sistem tenaga listrik yang tangguh di Indonesia yang berpusat pada energi terbarukan,” ujar Maria A. Borrero, CGS Research Associate dan penulis utama laporan tersebut. 

Di sisi lain,  Jiehong Lou, Asisten Direktur Riset di Center for Global Sustainability menyebut laporan kedua berjudul Industrial Parks in Indonesia: Challenges and Opportunities for Sustainable Industrial Development memuat basis data 79 kawasan industri dengan total kapasitas listrik sebesar 23,07 GW.

“Basis data ini mengatasi kesenjangan pengetahuan yang kritis mengenai kawasan industri, secara signifikan meningkatkan ketersediaan data yang sangat penting untuk memahami permintaan dan membuat keputusan yang tepat mengenai pengembangan batubara captive dan aspek-aspek lain yang berkaitan dengan penelitian kawasan industri,” ujar Jiehong Lou.

 

Lokakarya dan Capacity Building untuk Media Tahap 1


Recording Tahap 1


Latarbelakang

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, dihadapkan pada dua krisis besar: perubahan iklim dan krisis energi. Dampak perubahan iklim semakin terasa dengan meningkatnya frekuensi bencana alam, seperti banjir, longsor, dan kekeringan. Di sisi lain, krisis energi ditandai dengan ketergantungan yang tinggi pada bahan bakar fosil yang kian menipis dan tidak ramah lingkungan.

Transisi energi menuju energi terbarukan atau energi bersih menjadi solusi untuk mengatasi kedua krisis tersebut. Energi terbarukan seperti matahari, angin, dan air memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia, sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca dan dampak perubahan iklim.

Civil Society Organizations (CSO) dan media memiliki peran penting dalam mendorong pemerintah dalam  mencapai target energi bersih di Indonesia. CSO dan media dapat berperan sebagai agen advokasi, edukasi, dan mobilisasi masyarakat untuk mendukung energi bersih. Meskipun CSO dan media memiliki peran penting, masih terdapat kesenjangan kapasitas dalam memahami dan mengkomunikasikan isu transisi energi. Sedangkan media massa dapat berperan sebagai agen edukasi dan persuasi untuk mendukung energi bersih. Meskipun media massa memiliki peran penting, masih terdapat kesenjangan kapasitas dalam memahami dan mengkomunikasikan isu transisi energi, khususnya pada media massa lokal. Hal ini dikarenakan kompleksitas isu transisi energi yang membutuhkan pengetahuan dan pemahaman yang mendalam. Terlebih lagi, banyak perbedaan pendapat dan tantangan atas energi baru terbarukan (EBT) sebagai solusi atas sumber energi bersih di masa depan.

Untuk mencapai dampak desakan CSO dan media dalam kebijakan pemerintah yang sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE) di 2060 atau lebih cepat, penting untuk meningkatkan kapasitas CSO sehingga advokasi dan penyebaran informasi lebih tepat sasaran. Demi tujuan itu, IESR membuat program capacity building yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas CSO dan media dalam memahami dan mengkomunikasikan isu transisi energi di Indonesia. 

Program capacity building ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi CSO dan media dalam meningkatkan kemampuan CSO dan media dalam mendorong transisi energi melalui advokasi, edukasi, dan mobilisasi masyarakat. Program capacity building ini merupakan langkah penting untuk meningkatkan kapasitas CSO dan media dalam mendukung transisi energi di Indonesia. Dengan meningkatkan kapasitas CSO dan media, diharapkan transisi energi di Indonesia dapat terlaksana dengan lebih efektif dan berkelanjutan.

Sebelum dilakukan program capacity building, IESR telah melakukan analisis mendalam terkait kondisi pemberitaan media massa di Indonesia dan melakukan pemetaan media massa. Hasil ini digunakan dalam membuat konsep capacity building yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Kebutuhan yang IESR anggap cukup penting untuk ditindaklanjuti akan dipilih sebagai dasar konsep capacity building.

Program capacity building ini akan diadakan dua tahap di tahun 2024. Dalam lokakarya yang akan dilakukan di akhir bulan Mei 2024 (tahap 1), akan dipaparkan yaitu perubahan iklim, pendahuluan transisi energi, dan juga peta jalan transisi energi di Indonesia. Terkait perubahan iklim, akan dipaparkan bagaimana kondisi Indonesia dengan kebijakan pemerintah saat ini yang akan berdampak pada target NZE. Juga akan dipaparkan bagaimana kondisi lingkungan Indonesia dan pengaruhnya emisi karbon pada perubahan iklim yang terjadi. Pendahuluan transisi energi diberikan dengan materi yang sudah terstruktur dan relevan dengan kondisi saat ini. Masyarakat umum dapat mengaksesnya dengan bebas dan mengetahui tentang transisi energi dengan lebih mudah. Serta peta jalan transisi energi yang perlu komitmen bersama agar target NZE dapat dicapai. Tahap 2 akan dibahas lebih teknis seperti teknologi pembangkit listrik tenaga surya dan angin serta teknologi nuklir dan CCS. Tahap ini akan dilakukan pada akhir bulan Juni atau lebih cepat. 

Tentang Climate Action Tracker (CAT)

Climate Action Tracker (CAT) merupakan analisis ilmiah independen yang menilai tindakan iklim suatu negara dan mengukur kesesuaiannya terhadap Persetujuan Paris untuk mengejar upaya membatasi kenaikan suhu bumi hingga 1,5oC.

CAT merupakan produk yang dihasilkan dari konsorsium dua organisasi yakni Climate Analytics dan New Climate Institute serta kolaborasi dengan beberapa institusi/lembaga lainnya. CAT telah menyediakan hasil analisis independennya kepada pembuat kebijakan sejak tahun 2009.

Di tahun 2022, Institute for Essential Services Reform (IESR) resmi bergabung sebagai kolaborator di CAT. IESR memberikan penilaian terhadap target, kebijakan, dan aksi mitigasi negara lain serta melakukan review terhadap penilaian Climate Analytics terhadap target, kebijakan, dan aksi mitigasi Indonesia

Tentang Akademi Transisi Energi

Akademi Transisi Energi by transisienergi.id merupakan sebuah portal pembelajaran digital tentang transisi energi. Materi-materi yang diberikan dalam program ini menjadi sumber terpercaya dan up to date. Juga relevan dengan kondisi Indonesia pada saat ini.

Akademi Transisi Energi merupakan solusi edukasi bagi mahasiswa, civil society organisation, jurnalis untuk memperdalam pemahaman tentang transformasi energi yang ada di Indonesia dan dunia. Selain itu Akademi Transisi Energi juga menyasar dan mengembangkan skill building, sehingga generasi muda bisa berkontribusi dan aktif dalam proses transisi energi. 

Tujuan

  1. Memberikan pengetahuan terkait isu transisi energi dan energi terbarukan di Indonesia
  2. Memahami kompleksitas isu transisi energi yang terjadi
  3. Dapat mengidentifikasi dan menganalisis kebijakan transisi energi
  4. Mengembangkan strategi advokasi dan komunikasi yang efektif
  5. Membangun persepsi bersama antar media massa di bidang perubahan iklim atau energi terbarukan dalam mendorong transisi energi
  6. Membangun jaringan dan kerjasama dengan berbagai pihak

 


Presentasi

CAT Indonesia Assessment – Delima Ramadhani

1.-CAT-Indonesia-Assessment-Media-Delima-Ramadhani

Download

Pengenalan Transisi Energi – Abraham Octama

2.-Pengenalan-Transisi-Energi-Abraham-Octama

Download

Peta Jalan Transisi Energi Indonesia – Raditya Wiranegara

3.-Peta-Jalan-Transisi-Energi-Indonesia-Raditya-Wiranegara

Download

Lokakarya dan Capacity Building untuk Civil Society Organizations (CSO) Tahap 1


Recording Tahap 1


Latarbelakang

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, dihadapkan pada dua krisis besar: perubahan iklim dan krisis energi. Dampak perubahan iklim semakin terasa dengan meningkatnya frekuensi bencana alam, seperti banjir, longsor, dan kekeringan. Di sisi lain, krisis energi ditandai dengan ketergantungan yang tinggi pada bahan bakar fosil yang kian menipis dan tidak ramah lingkungan.

Transisi energi menuju energi terbarukan atau energi bersih menjadi solusi untuk mengatasi kedua krisis tersebut. Energi terbarukan seperti matahari, angin, dan air memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia, sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca dan dampak perubahan iklim.

Civil Society Organizations (CSO) dan media memiliki peran penting dalam mendorong pemerintah dalam  mencapai target energi bersih di Indonesia. CSO dapat berperan sebagai agen advokasi, edukasi, dan mobilisasi masyarakat untuk mendukung energi bersih. Meskipun CSO memiliki peran penting, masih terdapat kesenjangan kapasitas dalam memahami dan mengkomunikasikan isu transisi energi. Sedangkan media massa dapat berperan sebagai agen edukasi dan persuasi untuk mendukung energi bersih. Meskipun media massa memiliki peran penting, masih terdapat kesenjangan kapasitas dalam memahami dan mengkomunikasikan isu transisi energi, khususnya pada media massa lokal. Hal ini dikarenakan kompleksitas isu transisi energi yang membutuhkan pengetahuan dan pemahaman yang mendalam. Terlebih lagi, banyak perbedaan pendapat dan tantangan atas energi baru terbarukan (EBT) sebagai solusi atas sumber energi bersih di masa depan.

Untuk mencapai dampak desakan CSO dalam kebijakan pemerintah yang sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE) di 2060 atau lebih cepat, penting untuk meningkatkan kapasitas CSO sehingga advokasi dan penyebaran informasi lebih tepat sasaran. Demi tujuan itu, IESR membuat program capacity building yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas CSO dalam memahami dan mengkomunikasikan isu transisi energi di Indonesia. 

Program capacity building ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi CSO dalam meningkatkan kemampuan CSO dalam mendorong transisi energi melalui advokasi, edukasi, dan mobilisasi masyarakat. Program capacity building ini merupakan langkah penting untuk meningkatkan kapasitas CSO dalam mendukung transisi energi di Indonesia. Dengan meningkatkan kapasitas CSO, diharapkan transisi energi di Indonesia dapat terlaksana dengan lebih efektif dan berkelanjutan.

Sebelum dilakukan program capacity building, IESR telah melakukan analisis mendalam terkait kondisi pemberitaan media massa di Indonesia dan melakukan pemetaan media massa. Hasil ini digunakan dalam membuat konsep capacity building yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Kebutuhan yang IESR anggap cukup penting untuk ditindaklanjuti akan dipilih sebagai dasar konsep capacity building.

Program capacity building ini akan diadakan dua tahap di tahun 2024. Dalam lokakarya yang akan dilakukan di akhir bulan Mei 2024 (tahap 1), akan dipaparkan yaitu perubahan iklim, pendahuluan transisi energi, dan juga peta jalan transisi energi di Indonesia. Terkait perubahan iklim, akan dipaparkan bagaimana kondisi Indonesia dengan kebijakan pemerintah saat ini yang akan berdampak pada target NZE. Juga akan dipaparkan bagaimana kondisi lingkungan Indonesia dan pengaruhnya emisi karbon pada perubahan iklim yang terjadi. Pendahuluan transisi energi diberikan dengan materi yang sudah terstruktur dan relevan dengan kondisi saat ini. Masyarakat umum dapat mengaksesnya dengan bebas dan mengetahui tentang transisi energi dengan lebih mudah. Serta peta jalan transisi energi yang perlu komitmen bersama agar target NZE dapat dicapai. Tahap 2 akan dibahas lebih teknis seperti teknologi pembangkit listrik tenaga surya dan angin serta teknologi nuklir dan CCS. Tahap ini akan dilakukan pada akhir bulan Juni atau lebih cepat. 

Tentang Climate Action Tracker (CAT)

Climate Action Tracker (CAT) merupakan analisis ilmiah independen yang menilai tindakan iklim suatu negara dan mengukur kesesuaiannya terhadap Persetujuan Paris untuk mengejar upaya membatasi kenaikan suhu bumi hingga 1,5oC.

CAT merupakan produk yang dihasilkan dari konsorsium dua organisasi yakni Climate Analytics dan New Climate Institute serta kolaborasi dengan beberapa institusi/lembaga lainnya. CAT telah menyediakan hasil analisis independennya kepada pembuat kebijakan sejak tahun 2009.

Di tahun 2022, Institute for Essential Services Reform (IESR) resmi bergabung sebagai kolaborator di CAT. IESR memberikan penilaian terhadap target, kebijakan, dan aksi mitigasi negara lain serta melakukan review terhadap penilaian Climate Analytics terhadap target, kebijakan, dan aksi mitigasi Indonesia

Tentang Akademi Transisi Energi

Akademi Transisi Energi by transisienergi.id merupakan sebuah portal pembelajaran digital tentang transisi energi. Materi-materi yang diberikan dalam program ini menjadi sumber terpercaya dan up to date. Juga relevan dengan kondisi Indonesia pada saat ini.

Akademi Transisi Energi merupakan solusi edukasi bagi mahasiswa, civil society organisation, jurnalis untuk memperdalam pemahaman tentang transformasi energi yang ada di Indonesia dan dunia. Selain itu Akademi Transisi Energi juga menyasar dan mengembangkan skill building, sehingga generasi muda bisa berkontribusi dan aktif dalam proses transisi energi. 

Tujuan

  1. Memberikan pengetahuan terkait isu transisi energi dan energi terbarukan di Indonesia
  2. Memahami kompleksitas isu transisi energi yang terjadi
  3. Dapat mengidentifikasi dan menganalisis kebijakan transisi energi
  4. Mengembangkan strategi advokasi dan komunikasi yang efektif
  5. Membangun persepsi bersama antar media massa di bidang perubahan iklim atau energi terbarukan dalam mendorong transisi energi
  6. Membangun jaringan dan kerjasama dengan berbagai pihak

 


Presentasi

CAT Indonesia Assessment – Shahnaz Nur Firdausi

4.-CSO-Indonesia-Assessment-CSO-Shahnaz

Download

Pengenalan Transisi Energi – Abraham Octama

2.-Pengenalan-Transisi-Energi-Abraham-Octama

Download

Peta Jalan Transisi Energi Indonesia – Raditya Wiranegara

3.-Peta-Jalan-Transisi-Energi-Indonesia-Raditya-Wiranegara

Download

Antara Rendahnya Target Energi Terbarukan dan Ambisi Pertumbuhan Ekonomi yang Tinggi

Jakarta, 20 Februari 2024 – Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai langkah Dewan Energi Nasional (DEN) melakukan penyesuaian target bauran energi terbarukan di Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energi Nasional dari semula 23 persen menjadi 17-19 persen pada 2030 merupakan langkah mundur karena tidak sesuai dengan cita-cita pengurangan emisi dan pencapaian target net-zero emission Indonesia pada 2060 atau lebih cepat yang telah dicanangkan.

Fabby menyoroti pula agenda transisi energi yang diusung masing-masing pasangan calon presiden dalam pemilu 2024, yang memuat sejumlah target bauran energi terbarukan hingga tahun 2030 dalam wawancara dengan program Squawk Box

Menurutnya, masing-masing kandidat telah memiliki agenda transisi energi, salah satunya kehendak untuk mengejar target bauran energi terbarukan sama dengan Kebijakan Energi Nasional yang berlaku saat ini, berkisar antara 27-30 persen pada 2030. Selain itu, masing-masing kandidat juga memiliki komitmen untuk membatasi operasi PLTU batubara.

“Untuk pasangan 02, yang terlihat jelas adalah peningkatan penggunaan biofuel untuk mengganti atau mengurangi subsidi BBM seperti disampaikan pada saat kampanye,” kata Fabby. Pasangan calon presiden dan wakil presiden bernomor urut dua menargetkan  persentase campuran biofuel sebesar 50 persen pada tahun 2029, juga pemanfaatan etanol 10-20 persen.

Lebih jauh, Fabby menegaskan untuk sektor ketenagalistrikan, tujuan pengakhiran operasional PLTU batubara secara dini harus dibarengi dengan penambahan porsi energi terbarukan yang lebih besar. Selain untuk menggantikan daya listrik yang awalnya dipenuhi oleh PLTU batubara, pembangkit energi terbarukan juga harus mencukupi kebutuhan proyeksi pertumbuhan listrik di masa mendatang. Apalagi Indonesia berambisi untuk  mengejar pertumbuhan ekonomi hingga misalnya 6-7 persen, maka kebutuhan listrik diproyeksikan akan tumbuh lebih besar lagi. 

“Hitungan IESR, untuk mencapai berbagai target tersebut bauran energi terbarukan pada 2030 harus mencapai 40 persen, hal ini agak berbeda dengan penyesuaian target yang dibuat DEN saat ini,” jelas Fabby.

Fabby menambahkan PR pemerintahan baru terkait di sektor energi nanti adalah melakukan percepatan pembangunan energi terbarukan utamanya pada sub-sektor ketenagalistrikan dan bahan bakar cair.

Persiapan Transisi Energi di Sumatera Selatan bagi Kaum Muda

Palembang, 5 Desember 2023 – Meningkatnya intensitas bencana hidrometeorologi dalam satu dekade terakhir mengindikasikan perubahan iklim sedang berlangsung saat ini. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, menyebut bahwa di tahun 2023 bumi telah memasuki era pendidihan global (global boiling), di mana bulan Juli 2023 tercatat sebagai hari terpanas sepanjang sejarah.

Perubahan iklim terjadi akibat tingginya emisi gas rumah kaca. Sektor energi termasuk penghasil emisi tertinggi, terutama dengan penggunaan energi fosil seperti batubara. Indonesia merupakan salah satu negara dengan produsen batubara, dengan 80% hasil batubaranya untuk kebutuhan ekspor. Produksi batubara Indonesia terkonsentrasi pada empat provinsi di Indonesia yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, dan Sumatera Selatan. Sumatera Selatan merupakan lumbung pangan dan energi untuk pulau Sumatera. Batubara yang dihasilkan Sumatera Selatan akan digunakan untuk membangkitkan listrik yang memasok seluruh kebutuhan listrik di pulau Sumatera bahkan menurut proyeksi akan mengekspor listrik hingga ke Singapura.

Marlistya Citraningrum, Manajer Program Akses Energi Berkelanjutan Institute for Essential Services Reform (IESR), dalam kuliah umum di Universitas Sriwijaya mengutip survey terkait fenomena perubahan iklim yang sedang terjadi ini, orang muda dengan rentang usia 24-39 tahun memiliki kekhawatiran tinggi terhadap krisis iklim dan dampaknya.

“Transisi energi menjadi suatu upaya sistematis untuk memitigasi dampak krisis iklim yang semakin sering kita rasakan,” ujar Marlistya Citraningrum yang akrab disapa dengan Citra.

Perubahan sistem energi ini juga membawa dampak ikutan lainnya yaitu tumbuhnya kebutuhan tenaga kerja yang memiliki skill dan wawasan keberlanjutan. 

Namun antusiasme anak muda untuk terjun di bidang pekerjaan hijau terbentur beberapa hal, salah satunya masih terbatasnya informasi tentang pekerjaan hijau dan lowongan kerja di bidang pekerjaan hijau. 

“Dalam proses transisi energi, anak-anak muda dapat mengambil peran sesuai dengan keahlian masing-masing, tidak terbatas pada bidang teknik engineering saja. Jurusan sosial seperti ekonomi, hubungan internasional juga dapat berkontribusi pada proses transisi energi,” kata Citra.

Citra menambahkan bahwa saat ini sejumlah tantangan masih dihadapi pengembangan pekerjaan hijau di Indonesia, salah satunya terkait sertifikasi. Saat ini sertifikasi pekerjaan hijau masih terbatas pada sektor teknis yang terkait dengan pembangkitan listrik berbasis energi terbarukan. 

Di sisi lain, pengurangan dan penghentian penggunaan batubara dan beralih ke energi terbarukan akan berdampak pada aspek sosial dan ekonomi di daerah penghasil batubara di Indonesia. Hari Wibawa, Kepala Bidang Perekonomian dan Pendanaan Pembangunan Bappeda Sumatera Selatan, dalam kesempatan yang sama, mengatakan cadangan batubara di provinsi Sumatera Selatan akan habis dalam 12 tahun, sehingga diversifikasi ekonomi menjadi sangat penting untuk menghindari guncangan ekonomi yang besar saat sektor batubara sudah berhenti.

“Prioritas kami (pemerintah) saat ini adalah integrasi rencana transisi energi ke dalam RPJPD sehingga setiap aksi atau aktivitas sudah memiliki payung legalitas yang kuat,” kata Hari.