Skip to content

Strategi Komprehensif Transisi PLTU untuk Masukan bagi CIPP JETP

press release

Author :

,
Deon Arinaldo, Manajer Program Transformasi Energi, IESR
Deon Arinaldo, Manajer Program Transformasi Energi, IESR

JAKARTA, INDONESIA | 4 Juni 2024 – Institute for Essential Services Reform (IESR), lembaga think tank di bidang transisi energi dan lingkungan di Indonesia, bersama Center for Global Sustainability (CGS) Universitas Maryland, meluncurkan dua kajian terbaru yang berfokus pada strategi untuk mencapai transisi energi bersih yang berhasil di Indonesia.  Laporan pertama menilai PLTU yang sudah beroperasi dan akan dibangun, untuk menentukan prioritas PLTU yang dapat diakhiri operasinya secara dini sejalan dengan  jalur pembatasan suhu bumi di bawah 1,5°C. Studi dilakukan dengan menggabungkan global integrated assessment model (GCAM), model sistem tenaga listrik (PLEXOS), dan metode analisis dari bawah ke atas (bottom-up).

Sementara laporan kedua memuat basis data kawasan industri di Indonesia sehingga dapat memperluas inisiatif Rencana Investasi dan Kebijakan Komprehensif (comprehensive investment and policy plan, CIPP) Just Energy Transition Partnership (JETP).

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa memaparkan, pembangkit listrik di Indonesia masih didominasi oleh batubara sekitar 60 sampai 70 persen. Adanya kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) untuk menjaga biaya listrik agar tetap terjangkau, menciptakan ketergantungan dan menyulitkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk beralih dari energi fosil ke energi terbarukan. Namun perubahan kebijakan ini diperlukan untuk memberikan dorongan agar PLN beralih dari batubara ke energi terbarukan. Kebijakan pemerintah perlu menjembatani implikasi negatif jangka pendek yang muncul ke pemangku kepentingan seperti PLN maupun konsumen listrik. 

“Studi ini menganalisis pembangkit listrik dalam jaringan (on grid) dan di luar jaringan (off grid) PLN yang menggunakan beberapa strategi untuk mengurangi kapasitas PLTU, operasi PLTU yang fleksibel, pemensiunan dini, pembakaran biomassa, substitusi energi terbarukan, pembatalan konstruksi, koneksi jaringan, dan penyimpanan karbon. Studi ini memberikan strategi bottom up coal phase down yaitu mengusulkan strategi prioritas untuk tiap unit PLTU berdasarkan karakteristik PLTU dan kesesuaian peran PLTU untuk kebutuhan listrik di sistem masing-masing. Rekomendasi strategi ini dapat melengkapi jalur JETP yang sudah ada saat ini,” ujar Fabby pada peluncuran laporan (4/6/2024). 

Direktur CGS, Nate Hulman, mengungkapkan bahwa acara peluncuran kajian ini menjadi platform untuk mendiskusikan cara Indonesia dapat mengimplementasikan transisi energi bersih dan berkontribusi terhadap target global 1,5 derajat Celcius. 

“Penelitian baru kami menawarkan strategi yang ambisius dan transformatif yang sangat penting untuk memberikan kerangka kerja holistik baru agar strategi transisi selaras dengan target 1,5°C dengan mempertimbangkan tujuan nasional,” ujar Nate Hulman. 

Laporan 1.5°C-Aligned Coal Power Transition Pathways in Indonesia menemukan antara tahun 2025 dan 2050, penggunaan co-firing biomassa dengan sumber berkelanjutan pada 80 unit PLTU batubara (13 GW) off-grid dapat berkontribusi terhadap hampir setengah dari pengurangan emisi kumulatif. Sementara itu, pengakhiran operasional secara dini PLTU batubara dapat diterapkan pada 105 unit PLTU (25 GW) dapat berkontribusi terhadap hampir setengah dari pengurangan emisi kumulatif pembangkit listrik on-grid.

“Pengurangan emisi di sistem kelistrikan PLN perlu lebih digenjot untuk mengimbangi pertumbuhan emisi batubara off-grid/captive dalam waktu dekat, sehingga mitigasi di sistem kelistrikan PLN berkontribusi terhadap 68 persen pengurangan emisi kumulatif hingga tahun 2050,” ujar Deon Arinaldo, Manajer Program Transformasi Energi IESR. 

Untuk mencapai percepatan transisi energi batubara ini, diperlukan transformasi yang signifikan pada sistem ketenagalistrikan Indonesia. Mengintegrasikan sumber energi terbarukan yang semakin meningkat akan membutuhkan teknologi penyimpanan baru, perluasan infrastruktur jaringan listrik, dan operasi yang stabil dan fleksibel. Analisis tersebut mengungkapkan bahwa biaya pembangkitan listrik (biaya operasi pembangkit dan bahan bakar) turun hingga 21 persen pada tahun 2030 dan 75 persen pada tahun 2050, serta mengurangi emisi dari sektor ketenagalistrikan hingga 50 persen pada tahun 2040. Di sisi lain, terdapat kebutuhan investasi tambahan untuk implementasi dari strategi transisi.

“Investasi yang signifikan dalam teknologi penyimpanan baru, perluasan jaringan listrik, serta operasi yang stabil dan fleksibel sangat penting untuk membangun sistem tenaga listrik yang tangguh di Indonesia yang berpusat pada energi terbarukan,” ujar Maria A. Borrero, CGS Research Associate dan penulis utama laporan tersebut. 

Di sisi lain,  Jiehong Lou, Asisten Direktur Riset di Center for Global Sustainability menyebut laporan kedua berjudul Industrial Parks in Indonesia: Challenges and Opportunities for Sustainable Industrial Development memuat basis data 79 kawasan industri dengan total kapasitas listrik sebesar 23,07 GW.

“Basis data ini mengatasi kesenjangan pengetahuan yang kritis mengenai kawasan industri, secara signifikan meningkatkan ketersediaan data yang sangat penting untuk memahami permintaan dan membuat keputusan yang tepat mengenai pengembangan batubara captive dan aspek-aspek lain yang berkaitan dengan penelitian kawasan industri,” ujar Jiehong Lou.

 

Share on :

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Article

IESR-Secondary-logo

Dengan mengirimkan formulir ini, Anda telah setuju untuk menerima komunikasi elektronik tentang berita, acara, dan informasi terkini dari IESR. Anda dapat mencabut persetujuan dan berhenti berlangganan buletin ini kapan saja dengan mengklik tautan berhenti berlangganan yang disertakan di email dari kami. 

Newsletter