Webinar Transisi Industri Indonesia di Tahun 2025: Sektor-Sektor yang Sulit Dikurangi Emisinya dan Dorongan Menuju Net-Zero
Latar Belakang
Indonesia saat ini sedang menyusun Peta Jalan Dekarbonisasi Industri 2050 sebagai instrumen strategis untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8%, sejalan dengan komitmennya untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060 atau lebih awal. Lembaga Reformasi Jasa Esensial (IESR), yang membantu Kementerian Perindustrian dalam penyusunan peta jalan tersebut, memandang dekarbonisasi industri tidak hanya sebagai agenda iklim tetapi juga sebagai strategi ekonomi untuk mempertahankan akses ke pasar ekspor di tengah standar emisi global yang semakin ketat, sekaligus menarik investasi baru. Praktik ekonomi rendah karbon juga berpotensi memperkuat keberlanjutan lingkungan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, dengan perkiraan peningkatan PDB rata-rata hingga 5,11% pada tahun 2060 (IESR, 2025).
Sektor Industri menyumbang 34% emisi Indonesia yang berasal dari aktivitas industri, di mana 41% dari emisi tersebut berasal dari 8 sektor yang paling intensif energi (semen, besi & baja, kimia, pupuk, pulp dan kertas, tekstil, kaca & keramik, makanan & minuman). Emisi akan terus meningkat dari 154,3 juta tCO2e pada tahun 2023 menjadi 319 juta tCO2e pada tahun 2050 di bawah skenario BaU karena peningkatan produksi seperti peningkatan tiga kali lipat kapasitas produksi bahan kimia dan dua kali lipat produksi bahan bangunan pada tahun 2050. Berdasarkan Peta Jalan Dekarbonisasi Indonesia, terdapat lima strategi seperti efisiensi energi dan material, penggantian bahan bakar dan material, peningkatan proses, tenaga listrik rendah karbon dan elektrifikasi, serta penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS). Upaya-upaya ini bertujuan untuk mencapai target emisi nol bersih industri pada tahun 2050 dan menjawab persyaratan daya saing global untuk produk-produk industri intensif tinggi (Kementerian Perindustrian 2025).
Tantangan global ini menjadi mendesak di Indonesia, di mana industri berat, pertumbuhan permintaan yang cepat, dan kendala sistem energi membentuk lintasan transisi yang berbeda. Berdasarkan laporan Scaling the Industrial Transition: Hard-to-Abate Sectors and Net-Zero Progress in 2025 (World Energy Forum & Accenture, 2025), teknologi untuk dekarbonisasi industri berat, seperti baja, semen, kimia, dan transportasi berat, sudah tersedia, tetapi kemajuan masih terhambat pada tahap peningkatan skala, terutama karena hambatan ekonomi, kebijakan, dan infrastruktur, bukan keterbatasan teknis. Tantangan utama saat ini meliputi kelayakan finansial (bankability), profitabilitas, biaya energi, kepastian kebijakan, dan kesiapan infrastruktur pendukung.
Studi ini lebih lanjut mengungkapkan bahwa sekitar 50% emisi industri dapat dikurangi menggunakan solusi yang sudah matang, sementara sisanya akan membutuhkan inovasi lebih lanjut, dukungan kebijakan yang lebih kuat, dan infrastruktur pendukung, termasuk hidrogen dan penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS).
Transisi industri global juga tidak merata, atau multi-kecepatan, dengan negara-negara maju dan Tiongkok bergerak lebih cepat, sementara negara-negara berkembang terus tertinggal, terutama dalam hal akses ke pembiayaan. Bagi Indonesia, keterlambatan dalam menerapkan dekarbonisasi industri, terutama di sektor-sektor industri besar, menimbulkan risiko yang signifikan. Hal ini mencakup menurunnya daya saing ekspor, peluang investasi yang terlewatkan, dan risiko terjebak dalam struktur industri berbiaya tinggi dan beremisi tinggi.
Untuk menjawab kekhawatiran ini, IESR bekerja sama dengan Forum Ekonomi Dunia (WEF) akan menyelenggarakan webinar untuk membahas temuan laporan WEF, relevansinya dengan konteks Indonesia, dan rekomendasi strategis kepada pemangku kepentingan sektor publik dan swasta. Webinar ini bertujuan untuk memberikan wawasan bagi para pembuat kebijakan, pelaku industri, dan komunitas pembiayaan di Indonesia dalam mempersiapkan jalur transisi yang layak secara ekonomi, dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat luas melalui penciptaan lapangan kerja hijau, peningkatan keamanan energi, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Tujuan
- Memberikan informasi tentang temuan utama, kerangka kerja, dan implikasi strategis laporan dekarbonisasi industri WEF 2025 dalam konteks industri Indonesia.
- Membahas makna praktis dari “kemampuan penerapan” (biaya, skala, dan kesiapan integrasi) teknologi untuk sektor-sektor yang sulit dikurangi emisinya di Indonesia.
- Mengidentifikasi tindakan pendukung prioritas untuk Indonesia; terutama pada penyelarasan kebijakan, infrastruktur bersama, dan struktur pembiayaan untuk mempercepat transisi industri sekaligus memperkuat daya saing.
Speakers
-
Fabby Tumiwa - Chief Executive Officer (CEO) - IESR
-
Dr. Juniko Nur Pratama - Manajer Program Dekarbonisasi Industri - IESR
-
Dr. Marie Elka Pangestu - 2nd Deputy Chairwomen of The National Economic Council
-
Roberto Bocca - Head of Centre World Economic Forum
-
Nicholas Wagner - Centre for Energy and Materials - World Economic Forum